Jadi Kzl Gara-gara Mikirin Iklan

Waktu aku masih kecil, aku paling kesel sama yang namanya iklan. Lagi seru-serunya nonton kartun, tau-tau malah iklan. Pas iklannya udah habis, scene kartunnya jadi beda. Ada bagian yang hilang gitu. Akhirnya cerita jadi makin enggak nyambung dan susah banget dimengerti. Kayaknya ini salahku juga. Aku masih kecil, tapi udah terlalu merhatiin alur cerita. Bukan merhatiin betapa lucu adegan atau betapa imutnya karakter kartun itu.

Semoga aja waktu masih kecil aku enggak nanya, “Mak, kenapa film kartunnya dipotong-potong gitu? Kenapa enggak dilanjutin aja terus? Masa Goku Kamehameha-in sabun cuci piring? Alur ceritanya jadi ngawur banget. Komedinya enggak dapet. Kalau Dimas sih no.”

Anjay.

Dibandingkan anak asisten rumah tanggaku, kayaknya aku masih mending kalau beneran pernah nanya kayak gitu. Beberapa hari yang lalu, yang ada di rumah itu aku, ART, dan anaknya. Aku lagi ngedit video wawancara, ART sama anaknya nonton tv. Lagi pusing-pusingnya ngedit video, anak ART tiba-tiba teriak, “Kenapa diganti acaranya?!” Aku kaget, trus ngelirik ke arah tv. Ternyata channel enggak berubah. Cuma lagi iklan aja.  Aku ketawa sekeras-kerasnya, sementara ARTku memberikan anaknya ‘pencerahan’ soal iklan. Iya, kepala anaknya disenterin pakai lampu emergency waktu ada iklan di tv.
Baliho iklan
Yeah! PUT YOUR ANNOYING AD HERE!! // Source: kensegall.com

Aku juga ingat kalau dulu, aku itu sering banget ngitungin ada berapa banyak iklan yang muncul. Setiap hitungan udah lebih dari 5, aku lupa kalau lagi ngitungin iklan. Akhirnya aku harus menunggu deretan iklan berikutnya yang akan muncul setelah acara mulai break lagi. Enggak nyerah sampai situ aja, aku juga menggunakan stopwatch untuk menghitung durasi iklan. Cuma ya gitu. Tiap deretan iklannya udah habis, aku pasti lupa buat matiin stopwatch. 

Karena gagal mulu, aku berhenti melakukan aktifitas yang tidak diketahui tujuannya itu. Aku mulai mengakali kebosanan menonton iklan dengan cara mengganti channel tiap ada iklan. Parahnya, beberapa tahun kemudian, iklan di setiap channel itu munculnya nyaris samaan. Selisih waktunya juga enggak jauh-jauh amat. Aku curiga yang punya channel bekerja sama dengan pemerintah untuk mengawasi aku sebagai seorang pemerhati iklan.

Iklan di tv makin hari juga makin parah aja. Puncak kekesalanku itu muncul di iklan snack yang ceritanya dua orang putus pacaran gara-gara bapak si cewek lebih suka snack yang dingin daripada snack yang enggak dingin. Padahal, pacar si cewek lebih suka snack yang enggak dingin. Iklan ini maunya apaan, sih?! Seolah-olah ada pesan tersirat yang menyatakan kalau semua bapak itu berhati dingin dan semua cowok lebih suka yang praktis-praktis (re: muka-muka mie instan). Sial, padahal itu salah satu snack kesukaanku. Entah kenapa, setiap aku memakan snack itu, ada kekesalan tersendiri yang muncul di setiap gigitannya.
- Gigitan pertama: “Balikin harga yang dulu woi!!”
- Gigitan kedua: “Enggak jadi!! Mending perbaiki dulu tuh iklan woi!!”
- Gigitan ketiga: “Anjay snacknya habis. Uang lagi seribu, beli satu biji aja mana cukup. Balikin harga yang dulu woi!!”

Masih ingat alasan cewek yang, “Kamu terlalu baik buat aku,” kalau mutusin pacarnya? Enggak kebayang kalau si cowok protes, “Alasanmu klise banget. Aku mau kamu jujur.” Trus si cewek nangis, tiba-tiba ada lagu dan sound effect muncul dari tetangga sebelah rumah. Si cewek menatap mata pacarnya dengan tatapan aku-mau-kamu-tau-yang-sebenarnya dan berkata, “Sebenarnya, aku mutusin kamu karena bapakku enggak setuju aku pacaran sama kamu. Bapakku lebih suka snack yang dingin.” Si cowok terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa menatap si cewek dengan tatapan anjay-ada-korban-iklan-hashtag-balikinhargayangduluwoi!!-Zzzz. Bapaknya si cewek lalu menghampiri si cowok dengan snack dingin di tangannya. Bapak itu memakan snack dingin tepat di depan mata si cowok. Keadaan sekitar menjadi dingin. Tidak disadari ada kuntilanak muncul. Anjay, lagu yang muncul sebelumnya ternyata lagu Lingsir Wengi.

Lama-kelamaan, aku mulai mengerti fungsi iklan itu untuk apa. Kekesalanku terhadap iklan sudah mulai berkurang. Sampai akhirnya, aku mulai kenal yang namanya internet. Sebenarnya, aku bukan kesal sama iklannya, tapi aku kesal sama yang naruh iklan. Di website atau blog, tiap klik link, iklan muncul. Klik close ad aja, iklan lain muncul lagi. Bahkan ada juga yang iseng naruh iklan di tombol back-to-top. Zzzzz.

Iklan yang muncul di website atau blog itu diperparah dengan adanya virus (yang kayaknya) bohongan. Misalnya aku googling lewat hape trus enggak sengaja klik iklan. Tiba-tiba muncul tab baru yang menyatakan kalau hapeku ada virusnya. Setelah itu, ada 2 kemungkinan.

1.) Browser yang aku pakai langsung force close. Buat yang belum tau, force close itu semacam menutup otomatis aplikasi atau hal lain yang emang lagi berjalan di perangkat. Kesel? Yaiyalah. Lagi nyalin kerjaan dari google tau-tau force close. Harus buka ulang app trus cek history browser lagi. Sekalian delete history yang #IfyouknowwhatImean mumpung ingat.

2.) Aku bakalan redirect ke play store atau website download apk android enggak resmi. Aku enggak tau ini beneran virus atau bukan. Yang pasti, aku males kalau harus download antivirus buat hape. Kalau aku ketemu masalah yang sama lagi, aku bakalan langsung close tab iklan yang muncul sebelum loadingnya selesai. Ini untuk menghindari kemungkinan pertama dan kedua. Fyi, aku lupa screenshot hapeku waktu ad ini muncul. Jadinya, enggak ada bukti gitu. Aku udah nyoba googling tapi enggak dapet. Tes buka browser yang banyak iklan kayak judi online malah kena internet positif. Sekarang aku harus cek history buat ngehapus aku barusan buka judi online. Alasannya? Karena orang-orang lebih percaya sama history browser daripada penjelasan kenapa link website itu ada di history browser.

Untuk ngakalin yang begituan, aku pake adblock di pc. Semacam app buat ngeblokir iklan yang muncul.

“Woi! Pake yang begituan sama aja enggak menghargai pengiklan. Udah dapat konten gratisan, ngeliat atau klik iklan bentar doang enggak mau.” Kata orang dipojokan.

“Ya aku bisa apa? Iklannya kan mengganggu banget. Di setiap sudut website ada iklan.” Kata orang yang enggak ada dipojokan.

“Pecundang. Orang yang naruh iklan terlalu banyak dimana-mana memang pecundang, tapi yang masang adblock dan enggak menghargai pengiklan lebih buruk daripada pecundang.” Kata orang yang dipojokan, lagi.

Kalo aku, masangnya adblock yang kayak gini:
Adblockplus
Adblockplus vroh~
Kita bisa disable adblocknya dimana aja kita mau. Jadi, kita bisa block ad di website yang menurut kita emang bener-bener mengganggu aja. Jangan sampe salah milih app. Misalnya kayak gini:
Adblock yang salah
Tulisan di bagian bawah, “Ciee salah pake add-ons.” Trus ada emot :p di bagian paling belakang.
Gara-gara adblock itu, bukannya block ad, malah nambah ad. Tiap klik link apa aja, bahkan di website yang enggak ada iklannya, selalu muncul tab baru yang direct ke ad.

Iklan di youtube masih mendingan, lah. Jarang banget aku klik skip ad. Malah, kadang aku cek channel yang punya iklan buat ngeliat iklan yang lainnya. Soalnya, iklan di youtube itu hampir sama kayak short film, menghibur pula. Yang awalnya enggak senang sama iklan, malah jadi ketagihan gitu.
Meme iklan Axis
Iklan Axis. Iya, Axis yang kebanyakan iklannya itu maksa banget. Tapi, komedinya dapet. // Source: nyamukkurus.com
Eh, iya. Temenku juga pernah buat meme soal iklan beginian lewat foto-foto temen kelas yang diambil waktu masih kelas 10.
Meme parody iklan Axis
Iklannya maksa, editannya lebih maksa. // From: instagram.com/nikeprista
Menurutku, iklan dibuat untuk mempromosikan sesuatu dan mengajak kita untuk membeli atau melakukan sesuatu. 
Iklan atau dalam bahasa Indonesia formalnya pariwara adalah promosi benda seperti barang, jasa, tempat usaha, dan ide yang harus dibayar oleh sebuah sponsor.
menurut: id.wikipedia.org
Menurut temen-temen dari facebook:
Riset dari temen facebook
Aku post itu tanggal 13 Agustus. Sekarang udah 20 Agustus. Itu udah 7 hari yang lalu. Yang komen 1 orang doang. Itu juga enggak ngerti maksudnya apaan.

Menurut temen-temen dari twitter:
Riset dari followers twiiter
Sama aja. Enggak ada yang nanggepin. Punya followers 400an, setengahnya fake. Sisanya real, tapi udah enggak aktif. Giliran ada yang aktif, pada enggak peduli. Yaudah, serah.

Kalo menurut kamu apa?
Previous
Next Post »

7 Jejak Ditinggalkan

Ikutan Meninggalkan Jejak
Jia Yuuki
AUTHOR
August 21, 2016 at 8:25 PM delete

iklan sekarang kebanyakan hard selling, menurutku sih. makanya ide dan medianya maksa bgt, bukannya bikin orang interest malah ogah-ogahan kalau ada iklan. waktu aku ikut Ads festival di Jogja, iklannya bagus2, kreatif, org2 suka, cuma ya itu.. idea-nya mahal, but worth it. mayoritas di lapangan, klien/perusahaan yang nggak paham iklan cari yg murah dan ala kadar. ujung2nya hard selling -______-

Reply
avatar
Ngurah Dimas
AUTHOR
September 12, 2016 at 2:16 AM delete

Ada yang namanya Ads Festival ya? -_- Baru tau. Yap, soal ide iklan yang menarik dan kreatif pasti mahal banget. Jarang-jarang ada orang yang suka mantengin iklan soalnya :3

Reply
avatar
Ilham Kape
AUTHOR
June 3, 2017 at 5:12 PM delete

Iklan yaa fungsinya buat mempromosikan suatu barang. Tapi, gue juga kadang suka kesel aja gitu sama iklan yang ada di-website. Kadang iklannya itu nakutin, kayak iklan anti virus, nanti di iklannya itu sok tau kalo virus di hp/laptop banyak. Haduee...

Yang parahnya lagi, kadang ada sebuah website yang iklannya itu di setiap sudut ada. Padahal, iklannya sama aja. Kayak iklan casino atau iklan 18+. Menurut gue iklan gitu tuh menganggu banget. Toh, website kan bisa diakses banyak kalangan. Jadi, kalo ada iklan kayak gitu, mau gimana ke depannya? :D

Reply
avatar
Andi Nugraha
AUTHOR
June 4, 2017 at 12:32 AM delete

Aku sendiri berbeda mas, waktu kecil suka aja gitu kalau ada iklan. Apalagi iklan makanan. Tapi makin besar, makin gak suka, malahan kadang kesel. Apalagi kalau sedang nonton film gitu, ditambah iklannya banyak banget. Cara lain biasanya aku pindah chanel dulu, tapi pas balik lagi ke chanel utama yang sedang aku tonton. Eh, udah iklan lagi :(

Tapi memang benar, makin kesini aku rasa juga iklan sepertinya makin ngawur. Ada juga beng-beng dingin gitu :D

Di komputer juga sama pake adblock, biar lagi nonton tenang gitu gaka da iklan yang keluar. Aku lebih sering nonton di youtube dengan jarak agak jauh. Dan secara otomatis mouse jauh juga denganku. Disitulah senangnya kalau gak ada iklan, jadi bisa tenang dari kejauhan nontonnya sembari ngemil..haha. Tapi gak jauh banget sih, yang jelas jarak mouse ke aku jauh.

Menurut aku pribadi iklan itu ajang dimana untuk mempromosikan produk. Tak hanya produk, apapun bisa di iklankan. Pengalaman selama jualan online, khususnya buku. Aku sempat mengajak dua sahabatku untuk dijadikan model video buku.

Kalau gak salah aku bikin cuplikan iklan gitu yang durasinya gak gegitu panjang. Ya, selayaknya iklan-iklan di televisi :)

Reply
avatar
June 4, 2017 at 3:25 AM delete

Iklan sebenarnya bagian dari marketing untuk mempromosikan sebuah produk. Banyak juga iklan yang menarik yang ada pesan moralnya: misalkan iklan perusahaan yang mengucapkan selamat idul fitri/ramadan. Biasanya mereka menyisipkan pesan moral disana.

Nah, ada juga iklan2 yang absurd dan gak jelas apa. Nah, inilah iklan yang menyebalkan.
Kalau di TV swasta yang mendapatkan bayaran dari iklan, wajar saja jika banyak acara bagus yang iklannya panjang. Karena iklan tersebut yang mendanai produksi content mereka.

Kalau masalah adblock, saya juga pakai. Hanya saja, ada beberapa website yang tidak bisa dibuka ketika kita menggunakan adblock.

Reply
avatar
Yogi Satria
AUTHOR
June 5, 2017 at 5:42 AM delete

Hahahaha... kurang kerjaan apa gimana bro, sampe ngitungin durasi iklan, trus ngitungin berapa yang muncul, hadeeeh. Gokil.

Iya sih emang kadang tuh iklan ngeselin, apalagi yang di website. gue juga masang adblok kek gitu, biar gak terlalu keganggu.

Biarin ah dianggep gak menghargai orang masang iklan. Tapi kan mau gimana lagi orang iklannya ganggu kan. Hehehe..

Reply
avatar
iJeverson
AUTHOR
June 5, 2017 at 10:47 AM delete

yoi, adblock itu membantu banget sih yak, huahahah. Itu sih niat banget, sampe ngitungin jumlah iklan, ngitungin lama durasi pakai stopwatch, haduh. Gue sih dulu juga pernah kurang kerjaan ngitung-ngitungin begituan, tapi bukan ngitungin iklan melainkan ngitungin jumlah mobil merk tertentu. Misalnya, setiap gue pergi gue ngitungin ada berapa avanza yang gue liat.. pernah waktu itu gue ngitung ada sampe 1000 :")

Reply
avatar

Berkomentar lah sebelum berkomentar menambah pr matematika kalian :* ConversionConversion EmoticonEmoticon